Dosen UNIPMA Diundang Menjadi Pembicara di Kegiatan Festival Samin, Memperkuat Peran Kampus Berdampak 

Universitas PGRI Madiun- Dosen Universitas PGRI Madiun (Universitas PGRI Madiun) menjadi pembicara dalam kegiatan Festival Samin ke-10 yang digelar di Desa Jepang, Bojonegoro, Kamis (17/6), kemarin. Keterlibatan dosen Universitas PGRI Madiun dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan peran kampus berdampak melalui bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan budaya lokal.

Tim dosen Universitas PGRI Madiun yang hadir terdiri dari Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Dr. Aris Wuryantoro, S.S., M.Hum., dan Drs. Sumani, M.M, Dosen Pendidikan Sejarah Dr. Novi Triana Habsari, S.Pd., M.Pd, serta Wakil Dekan FKIP Universitas PGRI Madiun Dr. Edy Suprapto, S.Si., M.Pd.

Dr. Aris Wuryantoro, S.S., M.Hum., dalam wawancaranya melaporkan bahwa kehadiran tim dosen dalam festival tersebut tidak hanya memenuhi undangan sebagai pembicara, tetapi juga membuka peluang pengembangan kerja sama akademik berbasis budaya lokal.

Menurutnya, kawasan budaya Sedulur Sikep di Bojonegoro memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, hingga program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.

“Ke depannya, potensi ini sangat menarik untuk dikemas dan ditindaklanjuti, baik untuk keperluan penelitian, pengabdian masyarakat, maupun program Kuliah Kerja Nyata mahasiswa,” ujar Dr. Aris Wuryantoro, S.S., M.Hum.

Beliau menjelaskan bahwa budaya Sedulur Sikep menyimpan banyak nilai sosial yang relevan dengan kehidupan modern saat ini. Nilai-nilai tersebut dinilai dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus penguatan pendidikan karakter bagi mahasiswa maupun masyarakat.

Beberapa ajaran yang masih dipegang masyarakat Sedulur Sikep antara lain Laku Jujur, Sabar, lan Nerimo, yakni menjalani hidup dengan kejujuran, kesabaran, dan sikap menerima apa adanya. Selain itu terdapat ajaran Ojo Dengki, Srei, lan Panasten yang mengajarkan masyarakat untuk tidak memiliki sifat dengki, serakah, maupun mudah marah.

Masyarakat Sedulur Sikep juga memegang prinsip Ojo Waton Ngomong, Nanging Ngomong Sing Waton, yang berarti tidak berbicara sembarangan dan mengutamakan kebenaran dalam ucapan. Prinsip lainnya adalah Ojo Waton Tindak, Nanging Tindak Sing Waton, yakni bertindak berdasarkan aturan dan kebenaran.

Selain itu, ajaran Sedulur Sikep juga menanamkan sikap menghormati hak milik orang lain serta prinsip Ojo Bedak-bedakne Menungso atau tidak membeda-bedakan manusia.

Menurut Dr. Aris Wuryantoro, S.S., M.Hum., nilai tersebut relevan diterapkan dalam kehidupan sosial saat ini, termasuk dalam penguatan moderasi beragama maupun bernegara.

“Prinsip tidak membeda-bedakan manusia menjadikan ajaran Sedulur Sikep sangat tepat dijadikan role model dalam moderasi sosial,” katanya.

Keterlibatan dosen Universitas PGRI Madiun dalam forum budaya tersebut juga menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan kontribusi nyata kampus kepada masyarakat melalui pendekatan budaya dan pendidikan.

Melalui kegiatan tersebut, Universitas PGRI Madiun terus menunjukkan komitmennya sebagai kampus berdampak yang aktif mengembangkan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis potensi lokal serta kearifan budaya Indonesia.

Untuk informasi lebih lengkap terkait kegiatan kampus, dapat mengunjungi akun Instagram resmi Universitas PGRI Madiun di @official_unipma. Universitas PGRI Madiun juga telah membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2025/2026. Pendaftaran mahasiswa baru program Reguler dan RPL tahun akademik 2025/2026 juga telah dibuka.

Informasi lengkap terkait program studi dan persyaratan dapat diakses melalui akun Instagram @unipma_pmb, atau dengan datang langsung ke Biro PMB di Kampus 1, Jalan Setiabudi No. 85 Madiun, maupun Kampus 2 di Jalan Raya Klitik Km 5 Ngawi. Informasi juga tersedia di laman resmi Universitas PGRI Madiun, www.unipma.ac.id.