Siapa Bilang Bertani Gak Estetik? Mahasiswa SI UNIPMA Ini Sulap Sawah Jadi Konten Beromzet Puluhan Ribu Followers! 

Universitas PGRI Madiun – Menjadi mahasiswa Sistem Informasi (SI) tak melalu berurusan dengan deretan kode program yang menguras pikiran. Pika Dinelia, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas PGRI Madiun (Universitas PGRI Madiun), membuktikan bahwa ide kreatif bisa lahir dari mana saja, bahkan dari hijau dan lumpurnya area persawahan.

Berawal dari tugas kuliah yang berlanjut jadi konsistensi, Pika sukses mencuri perhatian publik lewat personal branding yang terbilang unik: menjadi content creator bertema pertanian.

Perjalanan Pika di dunia kreator digital sebenarnya dimulai tanpa sengaja sekitar satu tahun lalu, tepatnya saat ia duduk di semester 2. Kala itu, ia mendapat tugas untuk Mata Kuliah Multimedia Bisnis yang diampu Dimas Setiawan, S.Kom., M.Kom., ini mengharuskan setiap mahasiswa membangun akun media sosial berkonsep.

Di saat rekan-rekan sejawatnya sibuk memilih tema populer seperti kuliner, fashion, atau traveling, Pika justru berani mengambil arah berbeda. Ia memilih mengangkat dunia pertanian, aktivitas nyata yang saban hari ia jalani bersama kedua orang tuanya.

"Awalnya bingung mau ambil tema apa. Tapi setelah dipikir-pikir, aktivitas paling dekat dengan saya ya membantu orang tua di sawah sepulang kuliah atau saat libur. Dari situ saya putuskan angkat tema pertanian," tutur Pika, Senin (20/7), kemarin.

Tugas kuliah pun tuntas, namun konsistensi Pika tak berhenti di sana. Lewat kemasan video pendek berkonsep storytelling yang ciamik di TikTok, Instagram, Threads, hingga Facebook, Pika rutin membagikan momen dari ngrabuk (memupuk), merawat tanaman, hingga detik-detik panen tiba. Ditambah dengan selipan cerita kesehariannya sebagai mahasiswa dan anak magang, kontennya terasa kian mengalir dan menyentuh sisi emosional penonton.

Siapa sangka, narasi jujur dan relatable tersebut berhasil menyedot puluhan ribu pengikut dan jutaan views. Bahkan, keseriusannya ini berbuah manis dengan datangnya tawaran kerja sama dari brand pupuk nasional, FORBEST.

Bagi Pika, menyajikan dunia pertanian di media sosial tidak melulu soal teori teknis tanam-menanam yang kaku. Pendekatan yang paling efektif justru lewat kedekatan cerita (storytelling).

"Saya menyadari orang lebih mudah terhubung lewat cerita. Saya ingin mengubah pandangan bahwa konten pertanian itu tidak melulu kaku. Aktivitas sederhana di sawah pun kalau dikemas tepat bisa jadi cerita yang estetik dan punya nilai," jelasnya.

Langkah ini sekaligus menjadi wadah edukasi dan inspirasi bagi generasi muda agar tidak gengsi melihat sektor pertanian. Pika membuktikan bahwa latar belakang apa pun, termasuk mahasiswa teknik, tetap bisa berdaya dan kreatif lewat kearifan lokal yang dimiliki.

Sukses membangun personal branding yang otentik, Pika membagikan pesan untuk sesama mahasiswa dan generasi muda yang ingin mulai berkarya di media digital. Menurutnya, ide konten keren tidak harus selalu mengejar tren kekinian atau menggunakan peralatan serba mahal.

"Karya besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Jangan tunggu alat mahal atau ikut-ikutan tren. Kehidupan sehari-hari yang kita jalani bisa jadi identitas sekaligus kekuatan utama kita," pukas Pika.

Melalui kiprah digitalnya ini, Pika berharap semakin banyak anak muda yang tergerak memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan sektor pertanian secara lebih modern, kreatif, dan berdaya saing di era digital.

Sebagai informasi, Universitas PGRI Madiun juga telah membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Program Reguler dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Tahun Akademik 2026/2027. Informasi mengenai program studi dan persyaratan pendaftaran dapat diperoleh melalui akun Instagram @Universitas PGRI Madiun_pmb, laman www.Universitas PGRI Madiun.ac.id, atau Biro PMB Kampus 1 di Jalan Setiabudi No. 85 Madiun serta Kampus 2 di Jalan Raya Klitik Km 5 Ngawi.